Komsos KWI: Cyber Mission, panggilan terkini orang Katolik

Komsos KWI: Cyber Mission, panggilan terkini orang Katolik

Perubahan yang luar biasa akibat pengaruh perkembangan teknologi disadari oleh Gereja sebagai sebuah peluang untuk menjalankan dan mengembangkan cyber mission atau karya pastoral di internet. Gereja tak pernah ketinggalan zaman.

“Tengok saja seperti apa pergulatan Gereja Katolik ketika internet hadir dan berfungsi tidak hanya semata-mata sebagai sebuah alat komunikasi tetapi juga merupakan sebuah fenomena budaya baru yang benar-benar baru dan berbeda. Berbagai anjuran apostolik telah dikeluarkan oleh Gereja sebagai pedoman bagi Orang Katolik untuk berinternet secara sehat dan cerdas. Gereja pantas berbangga karena kemampuannya membaca tanda-tanda zaman yang mengubah pola perilaku dan jati diri sebagai pengikut Kristus,” kata Pastor Kamilus Pantus ketika berbicara di hadapan puluhan Orang Muda Katolik (OMK) Dekenat Nusa Tenggara Barat, Rabu (26/8) di Gedung Pastoral Santo Ignatius, Sumbawa Besar, NTB.

Sekretaris eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) itu berpandangan, kehadiran internet telah mengubah secara dramatis pola komunikasi di dalam keluarga, entertainment ways, pola persahabatan, pola berdoa dan berelasi dengan Tuhan serta pola belajar.

“Dulu informasi hanya bisa didapat dengan membaca buku di perpustakaan, sekarang informasi apa saja bisa diakses dengan mudah di internet,” ujarnya.

Ia mengingatkan, orang-orang muda Katolik di dekenat NTB, Keuskupan Denpasar bisa saja mengalami degradasi nilai perjuangan karena dimudahkan oleh internet.

Menurutnya, kekhawatiran itu sungguh beralasan, sebab anak-anak sekarang cenderung meninggalkan pola belajar lewat buku, meninggalkan perpustakaan. Mereka lebih senang pergi ke internet dan mengkopy ulang informasi tanpa ada analisis ilmiah terhadap informasi yang didapat.

Ia menambahkan, orang-orang muda perlu dibimbing untuk  mengenal realitas di internet yang tidak selalu bersahabat dengan pikiran dan hati mereka.

“Di internet, mereka bisa bertemu dengan orang-orang yang mengekspresikan diri dengan membuat status yang melecehkan, postingan gambar yang tidak edukatif, penghinaan, kata-kata makian, dan video yang berbau sara,” ungkapnya.

Panggilan Kristiani

Menurut Pastor Kamilus, keterlibatan orang-orang Katolik dalam media sosial, khususnya OMK dibutuhkan oleh Gereja untuk mengisi ‘kekosongan’ realitas di media sosial.

“Ikut ambil bagian dalam karya kasih Allah dan menguduskan dunia sekitar, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dengan kata-kata dan tindakan yang benar, ini merupakan cyber mission dari orang Katolik,” kata Pastor Kamilus.

Sementara itu, CEO Suara Surabaya Errol Jonathans mengatakan, OMK tidak perlu takut untuk masuk dan melakukan pewartaan di media sosial. “Saatnya OMK berani berkata-kata baik dan benar di media sosial,” katanya.

Baik Pastor Kamilus maupun Errol menilai, workshop public speaking yang berlangsung selama tiga hari di Sumbawa Besar ini merupakan bagian dari proses pembekalan  untuk dimanfaatkan oleh OMK Dekenat NTB dalam cyber mission atau pastoral di media sosial tanpa meninggalkan model pewartaan face to face sebagaimana dilakukan Yesus;

Artikel ini dikirim oleh Pastor Kamilus Pantus, sekretaris eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia

sumber

Rudi
About Rudi 201 Articles
Karena kita tidak mungkin menjadi superman lebih baik kita jadi super team,tapi super team itu berat,kamu gak akan kuat.. biar aku saja

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*