Maria Teresia Liana Soesanto : Menjawab Sapaan Tuhan

saksi-maria-teresia-liana-soesanto

Ia bukan seorang pelukis. Ia pun merasa tak pandai menggambar. Namun lima lukisan dari cangkang telur dihasilkannya. Dari lukisan itu, ia belajar melibatkan Tuhan dalam tiap langkah.

Tenggelam dalam dunia kerja, itulah pengakuan Maria Teresia Liana Soesanto. Ia menghabiskan hari- harinya, termasuk Sabtu dan Minggu, untuk kepentingan pekerjaan. Selama ini, menjalankan perusahaan di bidang event organizer dan kontraktor sungguh menyita perhatian dan menjadikan dia super sibuk.

“Karena pekerjaan, dulu saya sering tidak ke gereja untuk Misa. Kalau datang Misa juga cuek, ya cuma datang saja. Bahkan saya tidak tahu nama-nama Romo di paroki,” ujarnya sambil mengurai tawa. Keterlibatan Liana dalam kegiatan di lingkungan, wilayah, stasi, maupun paroki, cukup dihitung dengan jari tangan saja.

Namun kini, Liana mulai meluangkan waktu di celah kesibukannya. Ia melibati kegiatan lingkungan, wilayah, stasi, dan paroki. Keterlibatan Liana berawal dari segenggam asa di hatinya, ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi Gereja.

Cangkang telur
Kala itu, Paskah 2013, Liana diminta menjadi Koordinator Seksi Dekorasi Panitia Paskah Gereja Stasi St Maria Immaculata, yang masuk dalam yurisdiksi Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat. Kebetulan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sedang mencanangkan lomba “Green Easter Decoration KAJ 2013”. Setiap paroki di KAJ diharapkan turut memeriahkan lomba itu dengan membuat dekorasi Paskah yang “ramah lingkungan”, memanfaatkan barang-barang bekas.

Dalam benak Liana terlintas ide membuat Bukit Golgota dari cangkang telur. Ia pun membuat konsep dan rancangan Bukit Golgota dengan pernak- perniknya. Konsep dan ide yang bertengger di angan Liana bermuara pada keinginan melibatkan umat dalam proses penggarapan. “Saya ingin setiap umat terlibat dalam pembuatan dekorasi Paskah ini. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa ambil bagian untuk mengumpulkan dan menghias cangkang- cangkang telur itu,” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1970 ini. Bukit Golgota pun selesai dibuat dengan 10 ribu cangkang telur.

Liana juga melontarkan gagasan membuat telur pengharapan dengan memanfaatkan kantong bekas semen yang telah digunakan dalam pembuatan Gua Natal 2012. “Saya berusaha memanfaatkan barang bekas,” ujarnya.

Selain itu, Liana menggunting kertas- kertas bekas yang berwarna-warni, membentuk salib-salib kecil. Ia membagikan kertas berbentuk salib itu kepada umat agar mereka menuliskan harapan yang terbentang dalam benak mereka di kertas tersebut. Kemudian kertas yang bertuliskan harapan itu ditempelkan pada cangkang telur, dan jadilah yang dinamakan telur pengharapan. “Saya terkejut, umat sangat antusias melakukan hal itu,” kenang Liana.

Menjelang Paskah, tepat pada hari Kamis Putih, ide lain merangkak dalam benak Liana. Ia terdorong membuat lukisan Yesus dengan cangkang telur. “Saya ingin membuat sesuatu untuk Gereja. Saya tidak tahu, tiba-tiba gambar itu muncul di pikiran saya. Lalu saya cari di internet. Saya bingung juga, bagaimana membuat lukisan tersebut dalam waktu singkat,” kisahnya. Namun ia menyerahkan semua pada kuasa Tuhan lewat sebait doa yang ia daraskan.
Jika Tuhan berkehendak, segala sesuatu niscaya bisa terjadi. Demikianlah keyakinan yang ia dekap erat dalam hatinya.

Tak lama berselang, Liana membersihkan cangkang-cangkang telur . Setelah itu, ia mengambil sebuah triplek berukuran 84×60 sentimeter dan mulai menempelkan cangkang-cangkang telur itu dengan tangan. Seolah tak kenal lelah dan tak ingat waktu, lentik jemari tangannya terus menari di atas triplek itu.

Setelah cangkang demi cangkang tertempel, Liana mulai membuat sketsa gambar Yesus, dan mewarnai cangkang-cangkang itu dengan cat akrilik. Ia mengaku senang dan terkejut saat mengetahui hasil lukisan Yesus dari cangkang telur yang bisa ia selesaikan dalam waktu kurang dari tiga hari. “Saya bukan pelukis. Saya kaget juga bisa membuat gambar seperti itu. Tangan saya sampai keluar nanah, tapi saya tidak merasakan sakit,” kata lulusan Jurusan
Akuntansi Universitas Tarumanegara (UNTAR) Jakarta ini.

Lukisan itu kemudian dipasang untuk mempercantik rona dekorasi Paskah di
Gereja Stasi St Maria Immaculata. Tak disangka, dekorasi Paskah tersebut mendapat apresiasi dari Panitia Lomba Dekorasi Paskah KAJ 2013 dan berhasil menyabet juara I.

Keinginan memberikan sesuatu bagi Gereja terus bergelora dalam hati Liana,
apalagi saat itu pembangunan Gereja Paroki Trininas Cengkareng sedang dilakukan. “Saya ingin bisa membantu pembangunan tersebut,” tuturnya. Dengan penuh sukacita, ia mempersembahkan lukisan Yesus dari cangkang telur itu untuk dilelang dalam Malam Kesaksian dan Pujian, 29 Agustus 2013. Hasil lelang sebesar 100 juta rupiah dan disumbangkan bagi pembangunan Gereja Trinitas.

Selain lukisan Yesus, Liana juga menuangkan ungkapan iman secara kreatif dalam lukisan Pieta, dua gambar Yesus Kerahiman Ilahi, dan mukjizat Ilahi. Semua karya itu ia buat dengan menggunakan cangkang telur. Namun, metode pembuatan yang ia terapkan sedikit berbeda dari lukisan pertama. Ia membuat sketsa gambar terlebih dahulu, tapi bukan keseluruhan gambar secara langsung. Ia menggambar dan menyelesaikan setiap bagian: satu demi satu secara bertahap. Misal bagian kepala, lalu menempelkan serpihan cangkang telur pada sketsa yang telah ia buat. Setelah bagian itu selesai, ia menggambar bagian lain. Demikian seterusnya hingga semua bagian terlukis. Ketika satu lukisan utuh sudah selesai, ia pun mempercantik lukisan itu dengan cat akrilik.

Tak bisa lari
Ketika berkreasi dengan cangkang telur, Liana merasa belajar menjadi pribadi
yang lebih menerima dan sabar. Seiring dengan itu, secercah kerinduan untuk
mengikuti perayaan Ekaristi pun memenuhi sudut-sudut hatinya. “Kalau nggak ke Gereja itu rasanya nggak enak,” ungkap bungsu dari lima bersaudara ini. Ia juga mulai melibati kegiatan di lingkungan, wilayah, dan stasi: menjadi Seksi Sosial, Pembina OMK, dll.

Ketua Kelompok Lingkungan St Katarina, Gereja Stasi St Maria Immaculata ini pun makin rindu untuk berlama-lama bercengkerama dengan Tuhan. Hampir tiap hari, Liana mengkhususkan waktu sekitar 30 menit untuk berkanjang dalam doa di Kapel Adorasi Gereja Stasi St Maria Immaculata. “Ketika hening, saya lebih bisa berdoa. Dan kebetulan rumah saya dekat. Di tempat ini, saya bisa bersatu dan bertemu Tuhan,” ungkapnya.

Tatkala ditanya tentang ide lukisan dari cangkang telur, perempuan yang
dikaruniai dua putri ini merasa bingung menjelaskan. “Saya ini orang yang bebal. Kok bisa ya, orang seperti saya ini dipakai Tuhan?”

Namun Liana yakin, yang ia kerjakan itu rencana Tuhan baginya. “Kalau Tuhan
mau tarik saya, saya nggak bisa lari. Saya nggak bisa menolak. Seolah Tuhan bilang, ‘kamu tidak pernah ingat Tuhan selama ini’. Sekarang Saya (Tuhan – Red) sentil kamu!’ Tuhan seolah mau menunjukkan, dari kulit telur bisa keluar gambar-gambar Yesus. Dari sini kita tahu, Tuhan itu ada di mana-mana,” paparnya.

Kini keyakinan itu mengiringi tiap langkah Liana. Ia merasa Tuhan menyapa dan mengingatkannya melalui cangkangcangkang telur yang ia gunakan untuk merangkai lukisan. “Cangkang telur itu sesuatu yang dibuang, limbah, dianggap tidak berguna, tapi kalau Tuhan mau tunjukkan bahwa ini menjadi sesuatu yang bermanfaat, ya bisa terjadi,” tandasnya.

“Ini jalan hidup saya yang dianugerahkan Tuhan. Kalau Tuhan tidak terlibat, saya yakin tidak akan pernah bisa jadi lukisan dari cangkang telur itu. Tuhan
punya rencana melalui saya, saya pasrah,” demikian Liana.

Maria Pertiwi

Sumber : Hidupkatolik

Rudi
About Rudi 201 Articles
Karena kita tidak mungkin menjadi superman lebih baik kita jadi super team,tapi super team itu berat,kamu gak akan kuat.. biar aku saja

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*