Sekolah Katolik bergulat dengan reformasi pendidikan Banglades

Sekolah Katolik bergulat dengan reformasi pendidikan Banglades
Anak-anak sd Bangladesh

Keputusan Banglades memperpanjang pendidikan sekolah dasar dengan tambahan tiga tahun menimbulkan tantangan praktis yang sangat besar bagi sekolah-sekolah yang dikelola Gereja, kata para pendidik Katolik.

Menteri Pendidikan Banglades, Nurul Islam Nahid, mengumumkan perpanjangan pendidikan tingkat dasar dari kelas 5 hingga kelas 8, pada 18 Mei.

Sekolah-sekolah harus menerapkan perubahan tersebut tahun 2018 atau menghadapi sanksi pemerintah, kata Nahid.

Keputusan itu tak sesuai dengan Kebijakan Pendidikan Nasional negara itu 2010, yang merekomendasikan perubahan untuk mengurangi angka putus sekolah anak-anak dan juga menjamin para siswa memiliki keterampilan tertentu.

Sekolah tingkat menengah sekarang diperpanjang dari kelas sembilan hingga kelas 12.

Pendidikan dasar gratis diterapkan di sekolah-sekolah pemerintah, tetapi banyak siswa miskin putus sekolah dari kelas enam dan seterusnya akibat beban biaya.

Keputusan itu akan mempengaruhi 108.500 lembaga pendidikan dasar termasuk 63.000 sekolah negeri.

Gereja Katolik di Banglades mengelola sebuah universitas, delapan sekolah tinggi, 516 sekolah dasar dan 64 sekolah menengah, dengan sekitar 100.000 siswa.

Sekolah di pedesaan

Keputusan itu berdampak negatif bagi sekolah yang dikelola oleh sebuah kongregasi suster di Keuskupan Chittagong tenggara, kata kepala sekolah.

“Memperpanjang pendidikan dasar sampai kelas delapan pasti akan mengurangi drop out, tapi kami tidak memiliki dana untuk mengelolanya,” kata Suster Jyotsna Corraya yang menjalankan Don Bosco Sekolah Dasar, yang mendidik 200 anak miskin.

“Jika pemerintah menekan kami, kami akan menutupnya,” katanya.

Kepala sekolah lain juga memiliki kekhawatiran serupa, seraya mengatakan keputusan itu akan berpengaruh negatif sekolah-sekolah di pedesaan.

“Untuk menawarkan pendidikan yang baik sampai kelas delapan, Anda perlu guru yang baik, tetapi itu sangat sulit di daerah pedesaan karena orang-orang berpendidikan pergi ke kota,” kata Monoronjan Sarker, dari SD St. Maria di distrik Natore utara, Keuskupan Rajshahi.

Jika ada guru berkualitas tersedia, sekolahnya tidak bisa membayar mereka karena kurangnya pendanaan, katanya.

Infrastruktur yang lebih baik diperlukan

Infrastruktur dan manajemen yang diperlukan untuk ekstensi yang diperlukan juga menimbulkan tantangan bagi sekolah-sekolah yang dikelola Gereja, kata Pius Nanuar, manajer pendidikan Karitas, Keuskupan Sylhet  di timur laut negara itu.

“Ada 30 sekolah dasar misionaris (di keuskupan itu) dan sebagian besar orang bergantung pada mereka untuk pendidikan berkualitas,” kata Nanuar.

Dalam menghadapi tantangan, banyak sekolah yang dikelola Gereja akan sulit, kata Bruder Harold Bijoy Rodrigues OSC, sekretaris Dewan Pendidikan Konferensi Waligereja Banglades.

“Kami tidak berpikir itu mungkin untuk meng-upgrade sekolah tahun 2018 karena kami perlu dana besar untuk pembangunan infrastruktur dan administrasi,” kata Bruder Rodrigues.

Sumber: ucanews

Rudi
About Rudi 201 Articles
Karena kita tidak mungkin menjadi superman lebih baik kita jadi super team,tapi super team itu berat,kamu gak akan kuat.. biar aku saja

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*