Sr Francesco Marianti OSU: Mengabdi Sampai Akhir

saksi-sr-francesco-marianti-osu-mei-2014-hidup-katolikMeski usia senja, nyala semangatnya tak redup. Ia terus mengabdi dan melayani dalam bidang pendidikan. Syukur atas anugerah usia 10 windupun mengiringi langkahnya.

Rambutnya telah memutih. Keriput tampak menghiasi kulit wajah dan tangan. Namun kobar semangatnya untuk melayani dan mengabdikan diri, khususnya dalam bidang pendidikan tak memudar.

Menginjak usia 10 windu, Sr Francesco Marianti OSU masih menggeluti bidang pendidikan. Dengan setia, ia mempersembahkan pikiran, tenaga, waktu dan perhatiannya bagi proses pendidikan serta perkembangan anak didiknya.

Menurutnya, pendidikan tak hanya mengasah aspek intelektual peserta didik, melainkan juga mengembangkan ketrampilan, kepribadian, dan kepekaan sosial. Tentulah peserta didik diarahkan menjadi manusia pintar dan terampil. Lebih dari itu, mereka pun dibimbing agar mandiri, berorientasi pada nilai keutamaan, dan peduli pada sesama. Aneka kegiatan yang bersentuhan langsung dengan realitas penderitaan sesama menjadi medan untuk internalisasi nilai-nilai itu. Tak jarang, anak-anak diajak membuat bakti sosial berupa pembagian sembako dan pengobatan gratis bagi masyarakat kurang mampu.

Totalitas pengabdian dalam dunia pendidikan melekat padanya. “Saya ingin lebih total, terus-menerus memberikan yang terbaik. Selama saya masih bisa melakukan, saya akan lakukan pelayanan itu. Pelayanan bukan hanya di sekolah, tapi juga di komunitas, di provinsi saya,” ungkap Koordinator Sekolah St Ursula Bumi Serpong Damai (BSD) sejak 1990 hingga sekarang.

Memberikan yang terbaik, lanjut Sr Francesco, berarti mengusahakan untuk terciptanya perbaikan demi perbaikan dalam segala hal. Bahkan, tak ada kata berhenti untuk pengabdian dan pelayanan ini.

Di celah kesibukannya, ia menyediakan waktu untuk meditasi, berdoa, yoga dan membaca berbagai surat kabar, majalah, serta buku. Sr Francesco mengaku, ia dapat mengetahui perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat melalui habitus membaca ini.

Panggilan Hidup
Francesco lahir sebagai buah kasih pasangan Tan Tjoey Kim dan Lisa Peter Nio. Ia merupakan sulung dari lima bersaudara. Mereka tinggal di Cirebon, Jawa Barat. Orangtuanya sangat memperhatikan pendidikan kelima buah hatinya. Francesco menempuh pendidikan di Holland Indishe School (HIS), setingkat SD pada masa kolonial Belanda. Lalu ia melanjutkan ke Japanese-Indonesian Junior High School di Cirebon, hanya sampai kelas 1.

Sang ayah memindahkannya ke Midlebare Meisjes School (SMP-SMA) St Ursula Jakarta (1948-1953). Sekolah ini adalah sekolah Katolik untuk anak perempuan. Francesco terkejut, lantaran waktu itu agama Katolik begitu asing bagi keluarganya yang masih memegang kuat tradisi berdoa pada leluhur. Mereka tidak menganut agama apapun. “Kami hanya percaya bahwa kami mesti menjadi manusia yang baik di dunia,” ungkapnya.

Di sekolah, Francesco mengenal agama Katolik dan mempelajarinya, berinteraksi dengan para suster Ursulin, mencari tahu kisah santo-santa, dll. Ia pun ingin dibaptis. Kala mengungkapkan niatnya, sang ayah berpesan, “Setelah kamu dibaptis, jadilah Katolik 100 persen. Jangan setengah-setengah! Jika kamu tidak dapat melakukannya, lebih baik kamu batalkan keputusanmu.”

Mendekati waktu penerimaan Sakramen Baptis, Francesco berdoa pada Tuhan: “Saya tidak mengerti maksud “100 persen” yang dikatakan ayah. Tapi saya yakin, Tuhan akan membuat saya menjadi 100 persen Katolik.” Ia dibaptis pada usia 15 tahun.

Dua tahun berselang, Francesco mengungkapkan keinginannya untuk menjadi biarawati. Tapi orangtuanya tak mengizinkan. Meski begitu, keinginannya terus ia dekap.

Lulus SMA, Francesco melanjutkan studi ke Jurusan Ilmu Farmasi, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1953- 1958. Panggilan menjadi biarawati kembali mekar. Hampir tiap hari ia mengikuti Misa harian. Selama bulan Mei, ia menghabiskan waktu berdoa Rosario di Kapel Borromeus. Ia mencoba menghidupi panggilan Tuhan yang berbisik di telinganya.

Saat hampir lulus kuliah, Francesco didiagnosa sakit paru-paru. Selama satu tahun, ia harus istirahat total. Bahkan ia harus menjalani operasi. Pasca operasi, ia sempat mengalami masa-masa kritis. Ia menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dari seorang pastor. Para perawat dan suster pun berdoa untuknya. Kala itu, ia teringat pada janji yang pernah ia ikrarkan, yakni akan memberikan diri 100 persen pada Tuhan. Ia ingin memenuhi janjinya. Kondisinya berangsur baik. Cita-citanya pun berubah haluan. Ia memutuskan menjadi biarawati Ordo St Ursula (OSU).

Pada 27 Juli 1958, Francesco masuk OSU. Kemudian Provinsial mengutusnya untuk melanjutkan studi di Program Pascasarjana jurusan Biologi, Universitas Katolik Amerika, Washington D.C. (1962- 1965).

Saat menempuh studi, Francesco bersama mahasiswa asing lainnya mendapat kesempatan bertemu dan berjabat tangan dengan Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy di Gedung Putih. Inilah salah satu pengalaman yang mengesankan.

Usai menyelesaikan studi, Francesco bertugas sebagai Kepala SMA Cor Jesu, Malang, Jawa Timur (Desember 1965-Desember 1972). Lalu ia diutus menjadi Kepala SMA St Ursula Jalan Pos Jakarta (Januari 1973-Juni 1998). Ia sempat mengemban tugas sebagai Pimpinan Komite Pendidikan OSU (1972- 1978). Ia berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas perutusannya dengan totalitas.

Mendampingi dan mengembangkan potensi peserta didik dan para guru, menjadi salah satu hal yang terus ia geluti. “Dibutuhkan kreativitas dalam bidang pendidikan,” ujarnya. Termasuk mengembangkan pendidikan nilai: kedisiplinan, kemandirian, kejujuran, kerja sama, kepekaan, religiositas, daya juang, penghargaan, tanggung jawab, cinta lingkungan, dll. Litani nilai ini ditanamkan melalui pembelajaran di kelas, kegiatan ektrakulikuler, pelatihan melalui live-in, kaderisasi, retret, dll.

Tak Berhenti
Pada 17 Februari 2014, Sr Francesco merayakan HUT ke-80. Warga Sekolah St Ursula, alumni, baik Sekolah St Ursula Jakarta maupun Sekolah Cor Jesu Malang mempersembahkan perayaan bagi guru mereka ini. Beberapa perayaan digelar sebagai ungkapan terima kasih atas pengabdian Ursulin yang mengikrarkan kaul kekal pada 27 Januari 1966 ini.

“Saya merasa tidak layak mendapatkan ini semua. Sekian banyak siswa, orangtua, alumi berkumpul. Ya, mungkin orang ingin memberikan penghargaan. Orang boleh bilang saya dihargai, dicintai,” ujar Koordinator Nasional Jaringan Mitra Perempuan (1998-2000) ini.

Pada perayaan ulang tahunnya, Sr Francesco sempat meminta “hadiah” pada alumni, siswa, orangtua siswa berupa uang. “Uang itu saya kembalikan untuk para guru, karyawan, dan pensiunan guru Sekolah St Ursula di Jalan Pos dan BSD serta Sekolah Cor Jesu Malang. Selama 50 tahun saya mengabdi dalam bidang pendidikan. Itu kan saya tidak bekerja sendirian. Saya juga dibantu banyak orang, para guru dan karyawan. Maka saya juga ingin memberikan sesuatu pada mereka,” paparnya. Ia juga membagikan hadiah berupa barang yang ia terima pada para rekan suster di komunitasnya, Biara Ursulin Jalan Pos.

Sr Francesco bersyukur atas semua anugerah Tuhan yang mengalir dalam hidupnya. “Tuhan betul-betul merawat saya dengan baik…sampai hari ini,” tuturnya. Ia pun menandaskan, dirinya tak akan berhenti melayani. Hal ini seiring dengan motto hidup yang dihayatinya: “Menjadi 100 persen biarawati”.

“Tidak ada istilah pensiun dalam pengabdian, pelayanan pada Tuhan. Selama seseorang masih bisa memberi, berguna bagi orang lain, mengabdi orang lain, ya berikan! Lakukan saja..sampai tidak bisa, yaitu mati,” demikian Sr Francesco yang masih menaruh harap terbentuknya bank simpan- pinjam bagi warga Sekolah St Ursula.

Maria Pertiwi
sumber: hidupkatolik

Rudi
About Rudi 201 Articles
Karena kita tidak mungkin menjadi superman lebih baik kita jadi super team,tapi super team itu berat,kamu gak akan kuat.. biar aku saja

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*